Google Adsense

Titik Hayat 


Sunyinya malam 

Tak menentukan redupnya kehidupan 

Suara alam saling bercengkrama kali ini 

Angin dan langit pun enggan tak terjun 


Wahai sang Cahaya di malam hari 

Yang indah nan menenangkan 

Sang Bulan, kau dimana?

Lihatlah ada perayaan disini, kemana perginya dirimu?


Lalu, 

Kemana perginya tetangga jauhmu?

Yang selalu diharapkan jatuhnya agar tercapai harapannya 

Sang Bintang, kau pun dimana? 

Apakah langit tengah marah padamu? 

Atau langit sedang sibuk menggodamu karena keindahanmu?


Muncullah, banyak pihak menunggumu 

Begitupun aku, 

Seorang manusia yang meraung meminta keindahan 

ditengah gulana sergap kegelapan


Ku katakan, 

Gelap ini kurasakan begitu dingin

Kurasakan sangat dalam pula 

Sangat sesak berada di dalamnya

Apakah gelap ini ingin menyakitiku? 

Atau diriku sendiri yang menyakitiku? 

Atas hidup yang kelam ini 


Bulan! Bintang! Kalian tidak dipihakku. 

Kumenderita ditelan hausnya kegelapan. 

Ku panggil saja ciptaan Tuhanku yang tak pernah kalah dari paras indahmu itu. 


FAJAR! Sang Matahari!

Ayolah, aku menunggumu!

Ku yakin kau tak seperti bulan dan bintang 

Bukankah begitu? 

Terbitlah! Aku menunggumu, kehangatanmu, dan kenyamananmu


Lihat!!!

Semuanya tak pernah peduli bahkan enggan melihat akan kehancuranku 

Aku tenggelam sudah dilahap kegelapan 

Semuanya sudah tampak suram, dan kalian. 

Bulan bintang bahkan kau Fajar, tak kunjung datang 


Angin menghembuskan diriku

Menghempas roh yang menguasai raga berdosa ini 

Bayanganku perlahan hilang, tak tampak 

Dilahap kegelapan, tak ada cahaya 

Adakah kehidupan? 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama