Google Adsense

 

Puisi di bawah ini adalah puisi peserta lomba cipta puisi tingkat nasional. Puisi ini telah lolos kurasi dan akan diterbitkan dalam buku yang berjudul,"Find It" 



SIAPAKAH ENGKAU WAHAI AKHI ?


Ranting dedaunan kian kering berhamburan , berpetak – petak pohon jati kian tinggi menjulang, suara gemericik kian terdengar luruh meneduhkan , serta hangat mentari pun menambah suasana tenang . 


Ku berlari , berteriak memanggil mereka , lari dengan ambisius hingga sekujur keringat membasahiku , melewati duri tajam yang begitu menyakitkan hingga kakiku terluka berdarah-darah . 


Dawai-dawai suara kian bergema dalam hamparan hutan liar , hening suasana terkalahkan oleh suaraku memanggil para manusia penuh mimpi dan harapan .


Tak kusangka , ego telah merasuki dalam jiwa raganya hingga lupa akan orang disekitarnya , mereka meninggalkan aku sendirian lemah tak berdaya . 


Hanya seutas doa yang bergema dan membasahi bibir ini , meminta petunjuk kepada Ilahi Rabbi . 


Mata tertuju pada suatu bangunan , terbelenggu , tua , nan kumuh , namun mengapa kaki ini perlahan mendekati bangunan itu? sementara , jantung kuberdegup kencang tak tertahankan sekujur tubuh ini pun gemetar semacam kematian yang perlahan mendekati . 


Kubuka perlahan pintu bangunan tersebut , mata ku tertutup sekejap lalu terlukis oleh mata ku suasana yang berbeda , suatu cahaya terang nan semerbak aroma bunga . 


Tangan wanita biasa ini digandeng oleh seorang lelaki , tangannya begitu lembut , langkah kakinya yang begitu berirama sehasta demi sehasta kami berjalan disambut indah oleh taburan bunga mawar . 


Tak tahan dengan semua keindahan tersebut , mata ini mulai meneteskan air mata , sayang beribu sayang mata ini hanya melihat jelas tangan lelaki itu tanpa melihat indah rupawannya . 

Aku tidak tahu siapa Ia ! 


Yang ku tahu hanyalah perasaan ini begitu sangat mencintainya , seolah ia seorang lelaki yang ku dambakan , seorang lelaki yang kutunggu kedatangannya . 


Siapa pun engkau wahai Akhi ! hanya seutas doa kian kusemayamkan , berharap semua itu akan terasa kembali dan terlukis jelas tersimpan dalam jiwa raga . 


Aku menantimu wahai Akhi . 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama