Google Adsense

Rindu Memilu


Tak nampak, namun sangat terasa

Nan semut hitam di atas batu malam hari

Keberadaannya mengingatkan ku

Betapa pilunya diri tanpamu


Mungkin, indah bila ku mengingat

Cerita yang bergelimpangan jejak kecil.

Sesaat, menguras kepingan ingin ku

Menyurut segala penjuru rahsa


Yang kini mulai tersamarkan

Oleh keadaan yang menuntut menghilang

Oleh pikir yang menyurut logika

Oleh warna yang mulai pudarkan diri


Oleh aroma yang kian membusuk

Oleh rasa yang terasa pahit

Oleh pertemuan yang kian cipta hening

Oleh latar yang menutup gairahku


Ku ingat lagi, kita semua lucu ya?

Bahkan awalnya kita, tak saling sapa

hanya fokus menyendiri dengan meja kosong,

Bahkan kursi yang menjadi saksinya.


Ku kira selepas kita berpisah,

Keadaan  berangsur membaik kawan?

Nyatanya, aku masih perlu kau di sini,

Mendengar ceritaku, menyapa nasehatmu.


Namun, kini hanya merindu kurasa,

tawa dan tangis mulai mengikis,

Egosentris yang membawa konflik,

Bahkan, rayuan yang jadi sarapan 


Kini hanya sebatas kenangan 

Yang harus ku terima

Dan rindu ini kian  memilu 

Kala kau pergi tanpa sebuah jejak.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama