Google Adsense

 "Malam ini, rintik-rintik yang tumpul dan samar di jam-jam terkulai turun, di atas dataran tinggi bekas luka. Terserak di atasku dimana jiwaku yang lelah gemetar, menyusut seperti raja sendirian di atas istana yang hampa. Buta dengan keresahan dan saya sadar: Hentakkan sayap lebar melayang menuruni tangga dan membuatku kenyang seperti aroma bunga gardenia yang pekat.


Teronggok selama dua jam dan sempat berbaring di hati ini. Kesunyian ini hanya ditemani sebuah Gitar, satu cangkir Kopi, dan seonggok Raga, untuk melepaskan capek sesudah sepanjang hari menelan daya tarik. Malam dan hujan menjadi saksi mata, akan sekeping hati yang semakin patah, rasa ketidakjelasan yang ditelan mentah, jadi topik pembicaraan  yang semakin membetah.


Setiap malam kamar ini sunyi nan sepi, dan disini ku harus tetap bertahan dalam renungan, yang hanya bertemankan rindu setiap saat. Tuhan, kenapa harus ada seseorang yang teraniaya, karena hanya sebuah wajah tanpa tertaruh harapan, Bagaimana caraku tuk tabah? Sedang kepahitan semakin menjarah? 


Mungkin disana, dia menulis tentang keindahan Musim Panas dalam hujan. Tarian tetesan hujan yang jatuh dianggap berasal dari sana. Ayat yang dipesan lebih dahulu meringankan pengulangannya sebelum mereka bertemu - langkahnya telah dimulai.


Mungkin juga dia mendengarkan gendang lembut dan ritmis, cintanya berbalik untuk melarikan diri dan benang keruh. Dimana nimbus mistletoe jatuh, air mata menjadi ciuman, musim panas mereka adalah cincin simbolis.


Di atas langit bulan Juli, tetesan hujan bersinar dengan setengah dari segudang bintang Sirius yang cerah untuk tertawa dan berseri. La Tahzan Innallaha Ma’ana

"


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama