Google Adsense

Lorong Tua


Kepak daun momiji terhuyung

ditampar kecil telesit angin musim gugur

bersamanya semesta menerawang jauh

tiba di lorong tua

menyaksikan rentet kejadian seputar perjuangan

hanya dapat mengubur teriak pilu

berkali-kali bintik hitam mata 

terpaksa mendapati bedil yang mengudara

menggeliat segera menelisik organ

bersamanya gema teriak ‘Merdeka’diluapkan

menyingsing fajar di kemudian hari

tanpa tahu adakah sebuah sempat

terbatuk di dinginnya pagi

atau disapa dengan dimensi lain

yang selalu mengantongi tanda tanya

‘apakah sudah merdeka hingga nafas terakhir?’,

tukas patriot sembari berpaling

melangkah maju di medan lestari

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama