Google Adsense

HUJAN BERKENANGAN


Sejuta asap dipintu gerbang,

menerobos pagi, siang, dan juga malam. 

Senja yang awalnya bermega,

tertunduk rapuh karena tak kuasa. 


Kali ini benar-benar hujan,

membasahi dahan dan bertabur awan.  

Kayu basah, tersiram dingin menjadi angin 

lalu ku bawa pada sungai yang mengalir air. 


Tak perlu lama, awan tiba-tiba pergi, 

berpamit diri membawa kenangan hari ini. 

Hujan kembali tidur, 

namun kemarau datang menciumi ubun-ubun. 


Hujan, kembali-lah pada tubuh ini. 

Kayu dan dahan-dahan rumah kini menanti. 

Merindu kehangatan juga kedamaian yang kala itu kau beri.


Aku tidak memaksamu menemui awan. 

Tapi, kemarau menyiksaku di ujung harapan. 

Pedih, sedih, dan terkikih-kikih semuanya aku luapkan.

Dengan harap, meski bukan hujan yang data ng. 

Ada langit indah di waktu malam. 


Selain malam, aku tidak bisa mencintai langit. 

Sebab, hujan terakhir menemuiku di saat petang. 

Bukan senja tapi malam. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama