Google Adsense

 

Puisi di bawah ini adalah puisi peserta lomba cipta puisi tingkat nasional. Puisi ini telah lolos kurasi dan akan diterbitkan dalam buku yang berjudul,"Find It" 



BAPAK KOLONG NEGERI


Kutemui bongkahan debu dalam kerling matanya

Serupa kaca retak pantulan berarak

Buruk teruk busuk cibiran kasak kusuk

Jalang lisan sembunyi dalam kretek berasap dan terbatuk


Veteran tua, suara terbata-bata

Gagah tegap tubuhnya termakan usia

Raut keriput saksi pembela bangsa

Cerita akan perjuangan yang kini tiada harga


Barisan keamanan Rakyat

Topi baja 

Asal tembak kena dada,asal tusuk kena paha 

Mengelak hilang mata, maju hilang kepala

Berdebu dan mengalir darah saudara

Adalah peristiwa

 

Lencana didada,Teriakkan semangat juang

Berjubah abdi negara mengontel sepeda usang 

Ketika lelah mereka duduk diemperan trotoar

Mereka kurus, makan tak terurus


Ibu yang pertiwi, ayah yang persada 

Yang dalam sendi-sendi nadi sekujur badan

Nusantara dari serambi mekah hingga negeri timur nan indah

Celoteh patriot nasionalis bernada dalam jiwa


Berdiri di tanah ini, lautan api

Apakah negeri sudah beralih fungsi

Apakah materi lebih kuasa daripada Tuhan

Haruskah bermatrai agar tersebar diantara benua 


Adakah kau dengar gemuruh kerdil batinnya

Mereka tak perlu menimang atas norma

Sebab ia tak butuh pencitraan hanya menjujung nilai luhur PANCASILA

Mereka mewakilkan 


Ibu pertiwi

Anak-anak negeri yang dulu berjuang menjadi garda depan

Menggelepar bagai ikan berenang dalam pasir

Haruskah mereka matikan Aspirasi dalam ingatan semula 

Membelenggu Bhineka Tunggal Ika


Mereka menangis terlunta

Bapak veteran teriakkan semangat juang meski beruban

Terjajah oleh bangsanya sendiri, yang katanya merdeka 

Hidupnya bagai ayam tak berbiang ,Terombang ambing biduk tak bertuan

Kita tetap INDONESIA RAYA,kita tetap PANCASILA hingga dunia menutup lembar Babnya



Tak menangiskah Engkau GARUDA perkasa

Melihat mereka melipat tangan kedinginan di bawah jembatan

Tak mendidihkah merahmu wahai BENDERA PUSAKA 

Melihat para pejuang terlunta di jalan yang mereka bela


Istirahatlah bapak tua

Bapak surgawi

Bapak kolong Negeri

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama